Thursday, July 24, 2008

Mengenang Penyanyi Legendaris Chrisye

Chrismansyah Rahadi alias Chrisye telah pulang ke pencipta-Nya pada hari Jum’at 30 Maret 2007. Legenda musik Indonesia meninggalkan kita, para penggemarnya, selama-lamanya setelah sekitar tiga tahun berjuang melawan kanker paru-paru. Perjalanan karir musik Chrisye sejak 1970-an memberikan pengaruh besar bagi perkembangan musik Indonesia. Tidak hanya warna vokalnya yang khas, tapi juga konsistensinya dan kemampuannya mengikuti perubahan zaman serta pribadinya yang bersahaja.

Telah lebih dari 17 album solo, dan beberapa album kolaborasi dan kompilasi, yang ia terbitkan. Mulai dari album rock progresif paling fenomenal sepanjang sejarah musik Indonesia (Guruh Gipsy), album soundtrack film Indonesia paling sukses (Badai Pasti Berlalu), hingga album-album solo yang semuanya rata-rata sukses.

Secara pribadi penulis mengagumi dua album solo Chrisye yang bertajuk Percik Pesona (1979) dan Pantulan Cita (1981). Tidak banyak penggemar Chrisye yang memperhatikan kedua album ini. Tidak saja karena tidak ada hits yang populer di tangga lalu pop dan stasiun radio saat itu, tetapi juga karena musiknya yang tergolong bukan musik pop. Kedua album ini menanggung beban berat, terutama setelah suksesnya album solo perdana Sabda Alam (1978) dan soundtrack Puspa Indah Taman Hati (1980).

Kecintaan Chrisye terhadap musik progressive rock (saat itu masih disebut art rock) menimbulkan obsesi tersendiri. Bagaimana tidak? Sepanjang 1970-an Chrisye sangat akrab dengan band-band Barat seperti Genesis, Yes, ELP, Beatles, dan lainnya. Chrisye sebenarnya pernah merintis musik progressive rock (singkatnya progrock) saat berkolaborasi dengan Jockie Surjoprajogo di album Jurang Pemisah (1977). Lagu Jeritan Seberang dan Jurang Pemisah memberikan tanda bahwa musik pop dengan konsep progressive bisa dibentuk. Sentuhan Jockie sangat terasa di album ini, terutama dengan bekal kiprahnya di God Bless dan Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors.

Konsep progrock ala Indonesia di album Percik Pesona dan Pantulan Cita secara artistik patut mendapat pujian. Sayangnya masyarakat saat itu melihatnya berbeda. Dalam buku biografinya (ditulis oleh Alberthiene Endah), Chrisye: Sebuah Memoar Musikal, sang legenda mengenang masa-masa itu,”Tapi dalam kenyataannya, prinsip begini sulit diterapkan. Ketika kita sudah berhadapan dengan pasar yang kritis dan tuntutan marketing, kita sudah tidak bisa hanya memercayai kata hati. Ada suara-suara dari luar yang mau tidak mau menelusuk ke dalam benak dan suka tidak suka akan memengaruhi cara berpikir kita.”

Pada album Percik Pesona, Chrisye membukanya dengan tembang Kehidupanku. Lagu ini pantas ditempatkan sebagai pembuka. Tempo sedang, variasi drum Keenan Nasution, jemari Jockie dan Chrisye, dengan lirik yang menyentuh kalbu perihal renungan seorang insan yang berjalan menantang dunia. Suasana progrock sangat terasa pada title track nya dimana Fariz RM mengisi posisi drum. Melodi bass Chrisye terdengar sangat dipengaruhi permainan Paul Mc Cartney. Seperti kebanyakan komposisi Fariz RM, liriknya pun sangat puitis (ciri khas generasi Badai pada masa itu). Guruh menyumbangkan lagunya Lestariku, dengan lirik yang memuja alam dan kekasihnya. Beberapa tahun kemudian Chrisye mengaransemen ulang lagu ini dengan bantuan Addie MS. Sementara itu lagu Dirimu dan Diriku, serta Damba Di Dada, menjadi lagu-lagu indah yang kerap terlupakan pada berbagai kompilasi hits Chrisye.

Bagaimana dengan album Pantulan Cita? Keindahan artistiknya menandingi Percik Pesona, begitu pula dengan nasib komersialnya. Belajar dari kegagalan Percik Pesona dari sisi komersial, Chrisye (dan Jockie) belajar banyak. Diselingi album soundtrack Puspa Indah Taman Hati, Chrisye makin percaya diri dengan kekuatan warna suaranya. Yang kini diperlukan hanyalah resep musik yang bisa diterima masyarakat. Logo yang dibuat oleh Gauri Nasution, mantan rekannya di Gipsy Band, kembali menghiasi sampul. Desain yang unik (susunan puzzle wajah Chrisye) menambah semarak keindahan sampul. Sesuatu yang jarang diperhatikan diblantika musik Indonesia pada era sebelum datangnya Chrisye cs.

Keagungan Pantulan Cita dibuka dengan lagu Kencana, yang kembali menampilkan dinamika keyboard, drum dan bass. Lirik yang memuji keagungan alam kembali menjadi andalan. Aransemennya pun seakan mewartakan bahwa album ini bukanlah album pop biasa. Lagu kedua, Sentuhanmu, tergolong biasa. Namun track berikutnya, Desah Kalbu, Pantulan Cita dan Kala Mega Kian Mendung, seharusnya mampu menjadi hit berikutnya dari album ini. Sayangnya ketiga lagu ini, dan seluruh lagu yang dikemas bersamanya, tak mampu mengangkat popularitas Pantulan Cita. Mungkinkah karena keliru dalam susunan lagu? Atau keliru dalam memilih lagu andalan? Atau keliru dalam menjagokan lagu bagi stasiun radio? Entahlah. Yang jelas secara komersial, Pantulan Cita tidak mampu mengangkat popularitas Chrisye dan kembali mengulang sejarah Percik Pesona. Rupanya keindahan artistik belumlah cukup diandalkan sebagai kharisma utama sebuah karya. Chrisye tidaklah mudah menyerah. Bersama Jockie, dan kembali bekerja sama dengan Eros Djarot, mereka bertiga merilis album yang kelak menjadi tonggak sejarah kembalinya Chrisye ke pentas musik pop Indonesia: Resesi (1983).

Pada umumnya fans Chrisye tidak begitu akrab dengan album Percik Pesona dan Pantulan Cita. Terlepas dari itu semua aneh rasanya jika penggemar berat Chrisye sengaja melewatkan Percik Pesona dan Pantulan Cita. Kini waktunya yang tepat untuk mengenang prestasi almarhum. Khususnya pada masa dimana beliau tak terlalu paham mengapa kedua album yang secara artistik ia kagumi, bisa tak diterima masyarakat (saat itu). Semoga semangat yang diwariskan kepada kita akan selalu kita lestarikan kepada generasi berikutnya.

(Majalah SoundUp! Edisi April 2007)

PANTULAN CITA

Aransemen: Jockie S.
Keyboard: Jockie S.
Bass: Chrisye
Electric Guitar, Accoustic Guitar: Jerry
Drums, Percussion: Yaya M.
Komposer: Jockie S., Jerry, Chrisye, Harry Sabar
Vokalis: Chrisye
Backing Vocal: Indah Sukotjo
Produksi Musica Studios

Susunan lagu:
1 KENCANA( Jockie S.)
2 SENTUHANMU (Jerry, Jockie S.)
3 DESAH KALBU (Jockie S.)
4 KALA MEGA KIAN MENDUNG (Harry Sabar)
5 TRAGEDI (Jerry, Jockie S.)
6 TRAGEDI BADAI (Jerry, Jockie S.)
7 PUTRI AYU (Jockie S.)
8 PERKASA MANUSIA (Jockie S.)
9 HENING (Jockie S.)
10 PANTULAN CITA (Chrisye)


PERCIK PESONA

Aransemen Musik: Jockie Soeryoprayogo, Chrisye
Komposer: Fariz R.M., Chrisye, Jockie Soeryoprayogo, Agus Budiman, Guruh Soekarno Putra, Junaedi Salat, Tammy Lesanpura
Vokalis: Chrisye
Vokal Latar: Rafika Duri ("Angkuh")
Musisi Pendukung: Fariz R.M., Keenan Nasution, Agus Budiman, Jimmie Manopo
Produksi Musica Studios

1 KEHIDUPANKU (Fariz R.M., Junaedi Salat)
2 LESTARIKU (Chrisye, Junaedi Salat)
3 PERCIK PESONA (Jockie S., Fariz R.M.)
4 DEWI KHAYAL (Jockie S., Junaedi Salat)
5 CAKRAWALA (Fariz R.M., Agus Budiman)
6 DIRIMU DAN DIRIKU (Agus Budiman)
7 INDAHNYA ALAM (Agus Budiman)
8 ANGKUH (Jockie S., Tammy Lesanpura)
9 KENANGAN BIRU (Jockie S., Guruh S.P.)
10 DAMBA DI DADA (Chrisye, Junaedi Salat)

Disadur dari karya: Surjorimba Suroto



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...